 |
 |
 |
| |
MASUK KE SISTEM
Belum memiliki akun? Silahkan Anda untuk membuat akun baru.
Dengan memiliki akun, Anda dapat merubah konfigurasi, mengirim pesan, dsb.
Sudah memiliki akun namun Lupa Kata Sandi? |
|
 |
 |
 |
|  |
 |
|
 |
| |
Pesan Pastoral Minggu, 14 Maret 2010
"Hati Nurani yang Murni"
1 Timotius 1 : 18 - 20 ; Kisah Para Rasul 5 : 1 - 11
Apa yang Anda pikirkan saat mendengar ada anak Tuhan atau bahka hamba Tuhan jatuh ke dalam dosa? tentunya banyak reaksi yang muncul. Ada yang mencela, membenci, atau ada pula yang mencari kambing hitam, siapa yang dapat dipersalahkan dalam masalah ini. Namun, apakah itu akan menyelesaikan masalah yang ada? tentu saja tidak, justru hal ini dapat menambah masalah yang baru. Yang perlu kita renungkan dan pertanyakan adalah, mengapa anak Tuhan dan juga hamba Tuhan daspat jatuh ke dalam doa? Bukankah mereka aktif ke gereja, aktif melayani, bahkan juga mengerti Firman Tuhan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentunya tidak bisa mempersalahkan keaktifan ke gereja atau melayani, atau juga dalam mengerti firman Tuhan. Semuanya itu merupakan panggilan orang percaya. Sebenarnya, letak persoalannya justru berada di dalam diri orang tersebut yang menolak hati nurani untuk kebenaran dan lebih memilih suara kedagingannya. Semua orang pasti memiliki hati nurani, terlebih anak Tuhan, pasti memiliki hait nurani yang diterangi Roh Kudus. Amat wajar, jika orang di luar Tuhan melakukan dosa, karena mereka memang tinggal di dalam dosa. Hati nurani mereka telah dikuasai dosa, sehingga cenderung membela diri sendiri, bahkan memuaskan keinginan diri sendiri. Namun berbeda dengan orang percaya. Sudah seharusnya, orang percaya memfungsikan hati nuraninya untuk lebih mendengar suara Tuhan dan menaati perintah-Nya. Rasul Paulus menasihatkan kepada anak rohaninya, Timotius, untuk senantiasa menjaga hati nurani yang murni, agar imannya tidak gugur di dalam melakukan pertandingan iman (1 Tim. 1 : 18 -20). Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah hati nurani itu? Dan apa akibatnya, jika kita tidak mendengar suara hati, dan bagaimana suara hati tetap terjaga dengan baik? 1. Hati Nurani
Setiap orang mempunyai hati nurani yang diberikan Allah sejak lahir. Hati nurani (syneidesis) adalah alat untuk mengerti tuntutan-tuntutan hukum Allah dan juga alat untuk menghakimi moral dan tindakan manusia. Hati nurani juga sering disebut sebagai suara hati. Dengan demikian, manusia sebenarnya mempunyai pilihan dalam hidupnya, yaitu taat akan Tuhan atau tidak tidak, tergantung bagaimana ia memfungsikan hati nurani/suara hati tersebut.
2. Akibat tidk mendengar hati nuraniJika hati nurani adalah alat untuk mentaati Allah, maka sudah seharusnya kita mendengar sura hati kita dan tidak mematikannya. Keengganan untuk mendengar hati nurani akan mengakibatkan pelanggaran terhadap hukum Allah. Banyak hal dapat mempengaruhi hati nurani manusia. Salah satunya adalah motivasi kita. Bacaan kita dalam Kisah Para Rasul 5 : 1 - 11 memberikan contoh nyata, bagaimana suara hati tidak berfungsi dengan benar, karena "tertutupi" oleh motivasi yang salah. Ananias dan Safira bersepakat menjual sebidang tanahnya. Sebagian untuk rasul-rasul dan sebagian ditahan untuk mereka. Tetapi justru Rasul Petrus menegur mereka dengan keras, bahkan mereka dikatakan sedang mendustai Roh Kudus dan hati mereka dikuasai oleh iblis. Apa yang salah dari sepasang suami istri tersebut? Bisa jadi ini berkaitan dengan motivasi mereka. Motivasi adalah dorongan/keinginan untuk melakukan sesuatu. Tersirat di dalam kisah tersebut, Ananias dan Safira memiliki motivasi keliru, oleh karena mereka ingin dipuji dan dianggap rohani. Apa yang mereka lakukan tersebut tidak dapat lepas dari kebiasaan yang terjadi di jemaat mula-mula (Kis. 4 : 334-37). Dengan motivasi semacam itu, hati nurani mereka menjadi tumpul dan tidak peka terhadap suara Tuhan. Maka ada akibat yang dihadapi mereka, yaitu mati dalam kebodohan.
3. Menjaga hati nurani yang murni
Hati nurani harus dijaga agar tetap murni, sehingga dapat memuliakan Tuhan. Hati nurani akan tetap terjaga murni, jikalau kita menjaga iman. Sebab, hati nurani selalu berkaitan erat dengan iman kita di dalam Yesus. Yesus telah menebus kita dengan darah-Nya, sehingga memungkinkan hati nurani kita bersih dan Roh Kudus yang akan terus mengingatkan kitam bahwa kita adalah milik-Nya. Bahkan lewat firman-Nya, Ia akan memberi perintah untuk tetap sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Allah juga menginginkan, agar kita tetap tinggal dalam komunitas orang percaya. Maka, hati nurani kita semakin murni dan terhindar dari keinginan-keinginan daging serta motivasi yang keliru.
Bagaimana dengan hidup kita? Jika kita menyadari hati nurani kita telah tumpul, bahkan mati inilah saatnya kta bangkit dan mencari Tuhan dengan segenap hati, bukan makin menjauh dari Tuhan! Ingatlah, bahwa di luar Tuhan, kita tidak dapat beruat apa-apa, justru semakin matilah hatu nurani kita!
Copyright © oleh Gereja Isa Almasih Jemaat Lengkong Besar All Right Reserved. Tampilkan di: 2010-03-07 (123 kali dibaca) [ Kembali ] |
|
 |
|
 |
|