Minggu, 22 November 2009
"Mempelai Kristus, Jagalah Kekudusanmu!"
1 Tesalonika 4 : 1 - 12
Ada banyak calon pengantin yang sebenarnya tinggal menghitung hari-hari saja gagal mempertahankan komitmen menjaga kekudusan. Sepintas nampak tidak ada persoalan. Pernikahan tetap berlangsung meriah, dan kebahagiaan sebagai raja dan ratu sehari terasa sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Tetapi dibalik semuanya itu, telah terjadi pelanggaran terhadap prinsip, di mana Allah menghendaki semua orang menghormati kudusnya pernikahan. Dan setiap bentuk pelanggaran ketetapan Allah, masing-masing ada konsekuensinya. 1 Tesalonika 4 : 1 -12 menggambarkan, betapa Allah juga memberi perhatian yang serius menyangkut kekudusan menjelang hari "Pernikahan Anak Domba Allah". Pernikahan yang dimaksud merupakan simbol bertemunya dan bersatunya Yesus Kristus sebagai mempelai laki-laki dan orang-orang percaya (gereja) sebagai mempelai wanita. Suatu perjumpaan di udara (di awan-awan) sesaat, setelah kedatangan-Nya yang kedua kali kelak. Sebagaimana kita ketahui, bahwa kedatangan Yesus Kristus itu ditandai dengan bunyi sangkakala yang pasti terdengar oleh semua orang. Di bumi terjadi kebangkitan orang-orang pecaya dari antara orang-orang mati. Yang masih hidup seketika akan diubahkan dan mengalami pengangkatan (rapture). Untuk sampai pada tahapan tersebut, gereja Tuhan perlu mempersiapkan dirinya dengan baik. Beberapa pertanyaan berikut ini akan membantu kita untuk dapat memahami dan melakukan sesuatu yang penting berkaitan dengan kekudusan:
1. Mengapa kekudusan panting bagi Allah?Dengan kekudusan, berarti gereja Tuhan sebagai mempelai Kristus menaruh penghormatan terhadap statusnya sendiri, dan Yesus Kristus sebagai mempelai laki-lakinya. Adalah kasih karunia, jika kita dipandang layak untuk bersanding dengan Tuhan Allah kita. Dia yang Maha Kudus tentu mengharapkan gereja-Nya tidak bercacat dan berkenan pada saatnya nanti. Kekudusan menjajdi syarat mutlak dalam persekutuan orang-orang percaya dengan Kristus. Dengan menjaga kekudusan, berarti gereja Tuhan memberikan penghormatan terhadap lembaga (wadah) yang Allah tetapkan sendiri bagi umat-Nya. Jika hal itu kita lakukan dengan kesungguhan, maka kebaikan dan kebahagiaan sejati dari Allah akan nyata. Namun sebaliknya, jika kita hidup di dalam kecemaran dan hawa nafsu, maka penolakan dan penghukuman akan menimpa kita.
2. Bagaimana mempelai Kristus dapat menjaga kekudusan?Sebagai mempelai Kristus, kita dapat tetap hidup di dalam kekudusan sampai pada hari kedua kali kedatangan-Nya. Apalagi jika perkataan dan tindakan percabulan benar-benar kita hindari. Dunia di sekitar kita memang dipenuhi kecemaran dan kenajisan. Tetapi, pilihan untuk memutuskan hidup di dalamnya atau sebaliknya, ada di dalam diri kita sendiri. Tuhan akan memberikan kekuatan kepada setiap orang percaya yang sungguh-sungguh memiliki komitmen untuk menjaga kekudusan. Hal lain dikatakan, bahwa setiap kita hendaknya tetap dalam prinsip "monogami" (1 istri 1 suami). Bukan poligami atau perselingkuhan, yang sebenarnya hanya sekedar menuruti hawa nafsu kedagingan belaka. Sehingga keharmonisan dalam rumah tangga/pernikahan dapat terpelihara dengan memberdayakan/menipu saudara-saudara yang lain untuk suatu keuntungan dan kepentingan diri sendiri. Sebaliknya, pesaudaraan sebagai sesama orang percaya diikat di dalam kasih Yesus Kristus.
Sejak semula, Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus dan berkenan kepada-Nya. Karena itu, penolakan untuk melakukan kehendak-Nya berarti juga penolakan kepada Allah yang telah memberikan Roh Kudus-Nya atas setiap kita. Menjelang kedatangan Tuhan, mari kita lebih bersungguh-sungguh lagi menjaga kekudusan hidup, sehingga kita layak dan berkenan sebagai mempelai Kristus.
Copyright © oleh Gereja Isa Almasih Jemaat Lengkong Besar All Right Reserved.